Prinsip – Prinsip Komunikasi

Komunikasi memiliki ragam prinsip-prinsip dan aspek-aspek yang selalu melekat pada prosesnya. Setiap pengertian dan hakikat sesuatu akan lebih dimengerti maknanya apabila ada prinsip-prinsip yang dijabarkan untuk memperluas pengertian dan hakikat tersebut. Demikian pula prinsip-prinsip komunikasi berfungsi untuk memperjelas dan menjabarkan definisi dan hakikat komunikasi tersebut.

communication

Komunikasi pun memiliki prinsip-prinsip yang harus di ketahui oleh para mahasiswa khususnya ilmu komunikasi. Prinsip-prinsip komunikasi seperti halnya fungsi dan definisi komunikasi mempunyai uraian yang beragam sesuai dengan konsep yang dikembangkan oleh masing-masing pakar. Istilah prinsip oleh William B. Gudykunst disebut asumsi-asumsi komunikasi. Larry A.Samovar dan Richard E.Porter menyebutnya karakteristik komunikasi. Deddy  Mulyana, Ph.D membuat istilah baru yaitu prinsip-prinsip komunikasi. Terdapat 12 prinsip komunikasi yang akan di jelaskan dalam makalah ini.

A.  Prinsip 1:Komunikasi Adalah Proses Simbolik

Kebutuhan simbolisasi atau penggunaan lambang. Ernst Cassirer mengatajan bahwa keunggulan dari manusia atau mahkluk lainnya adalah keistimewaan mereka sebagai animal symbolicum.

Lambang atau simbol adalah sesuatu yang digunakan untuk menunjukan sesuatu lainnya, berdasarkan kesepakatan sekelompok orang. Kemampuan manusia menggunakan lambang verbal memungkinkan perkembangan bahasa dan menangani hubungan antara manusia dan obyek (baik nyata ataupun abstrak ) tanpa kehadiran manusia dan objek tersebut.

Lambang adalah salah satu kategori tanda. Hubungan antara tanda dengan objek dapat juga direpresentasikan oleh ikon dan indeks tidak memerlukan kesepakatan. Lambang bersifat sembarang, manasuka, atau sewenang-wenang

Lambang hadir dimana mana dan tidak henti-hentinya menerpa kita : gosip antar tetangga, tagihan listrik, buku yang kita baca, lagu lewat radio, berita TV, suara azan dan sebagainya. Namun alam tidak memberikan penjelasan kepada kita mengapa manusia menggunakan lambang-lambang tertentu untuk merujuk pada hal-hal tertentu, untuk merujuk pada hal-hal tertentu, baik yang kongkret maupun yang abstrak. Ada ungkapan “you are what you read” anda adalah apa yang anda baca. Siapa anda dapat diketahui dari jenis bacaan anda. Kita bisa membedakan dunia simbolik (pendidikan, pengalaman, selera).

Lambang pada dasarnya tidak mempunyai makna : kitalah yang memberikan makna pada lambang.

Makna sebenarnya ada dalam kepala kita bukan terletak pada lambang itu sendiri. kalaupun ada orang yang mengatakan bahwa kata-kata mempunyai, yang ia maksudkan sebenarnya bahwa kata-kata itu mendorong memberi makna (yang telah disetujui bersama) terhadap kata-kata itu. Persoalan akan timbul bila para peserta komunikasi tidak memberi makna yang sama pada suatu kata.

Sebagian orang percaya bahwa angka-angka tertentu mengandung makna-makna tertentu, misalnya kualitas (bagus, atau jelek). Kekuatan, keberuntungan atau kesialan. Begitulah, angka 9 atau 10, seperti huruf A (nilai ujian mahasiswa), sering diasosiasikan dengan kualitas atau prestasi yang tinggi. Namun angka rendah pada urutan 1,2,3 justru menunjukan kualitas tertinggi bila digunakan untuk mengukur calon anggota DPR atau DPRD. Tidak mengherankan bila lambang garuda kita dihiasi dengan sayap jumlah 17 bulu, ekor berjumlah 8 bulu dan leher berjumlah 45 bulu. Kenyataannya tidak pernah ada seekor burung dari jenis apapun yang mempunyai susunan seperti iyu.

Akan tetapi, angka yang dianggap paling ”berbahaya” secara universal mungkin angka 13. Banyak orang percaya bahwa angka 13 adalah angka sial, sehingga kalau bisa angka ini dihindari. Kepercayaan itu konon berkaitan dengan perjamuan terakhir Yesus Kristus bagi ke 12 muridnya.

Konon,kalau meja itu dihindari 13 tamu , maka tamu pertama atau tamu terakhir yg meninggalkan kursinya, akan mati penasaran dalam waktu tidak lebih dari 12 bulan.

Ketakutan akan angka 13 ini telah menjadi sejenis “penyakit” yg di sebut triskadaikophobia.

Sebagai satu satunya makhluk yg menggunakan lambang, manusia sering mementingkan lambang dari pada hakikat yg dilambangkan.

B.  Prinsip 2:Setiap Perilaku Mempunyai Potensi Komunikasi

Kita tidak dapat berkomunikasi (we cannot not comunicate).
Tidak berarti bahwa semua perilaku adalah komunikasi. Cobalah anda minta seseorang tidak berkomunikasi amat sulit baginya untuk berbuat demikian, karna setiap perilakunya punya potensi untuk ditafsirkan. Kalau ia tersenyum, ia ditafsirkan bahagia; kalau ia cemberut, dia ditafsirkan ngambek. Bahkan ketika kita berdiam diri sekalipun, ketika kita mengundurkan diri dari komunikasi dan lalu menyendiri, sebenarnya kita mengkomunikasikan banyak pesan. Tak jarang pula seseorang yang diam, memiliki banyak makna dari sikap diamnya tersebut dan makna yang ada di kepala anda akan berbeda dengan makna yang di tangkap oleh orang lain.

C.  Prinsip 3:Komunikasi Punya Dimensi Isi dan Dimensi Hubungan

Dimensi isi di sandi secara nonverbal. Dimensi isi menunjukan muatan (isi) komunikasi, yaitu yg dikatakan. Sedangkan dimensi hubungan menunjukan bagaimana cara mengatakannya yg juga mengisyaratkan bagaimana hubungan para peserta komunikasi itu, dan bagaiman seharusnya pesan itu ditafsirkan. Sebagai contoh, kalimat “aku benci kamu” yg di ucapkan dengan nada menggoda mungkin sekali justru beratu sebaliknya

D.  Prinsip 4: Komunikasi Berlangsung Dalam Tingkat Kesengajaan

Komunikasi dilakukan dalam berbagai tingkat kesengajaan, dari komunikasi yang tidak disengaja sama sekali (misalnya ketika anda melamun sementara orang memperhatikan anda) hingga komunikasi yg benar benar direncanakan dan disadari (ketika anda menyampaikan pidato). Kesengajaan bukanlah syarat untuk terjadinya komunikasi. Meskipun kita sama sekali tidak bermaksud menyampaikan pesan kepada orang lain, perilaku kita potensial ditafsirkan orang lain dalam berkomunikasi  biasanya kesadaran kita lebih tinggi dalam situasi khusus dari pada dalam situasi rutin, misalnya ketika anda sedang diuji secara lisan oleh dosen anda atau ketika anda berdialog dengan orang asing yg berbahasa inggris dibandingkan dengan ketika anda bersenda gurau kepada keluarga atau kawan kawan anda.

E.  Prinsip 5: Komunikasi Terjadi Dalam Konteks Ruang dan Waktu

Makna pesan juga bergantung pada konteks isi dan ruang (termasuk iklim, suhu, intensitas cahaya, dsb), waktu, sosial dan psikologis. Topik topik yg lajim dipercakapan dirumah, tempat kerja, atau tempat hiburan seperti “lelucon”, acara televisi, mobil, bisnis, atau perdagangan terasa kurang sopan bila dikemukan di masjid. Tertawa terbahak bahak atau memakai pakaian dengan warnanya menyala, seperti merah, sebagai perilaku nonverbal yg wajar dalam suatu pesta dipersepsi kurang berdab bila hal itu ditampakan dalam acara pemakaman.

F.   Prinsip 6: Komunikasi Melibatkan Prediksi Peserta Komunikasi

Ketika orang berkomunikasi, mereka meramalkan efek perilaku komunikasi mereka. Dengan kata lain, komunikasi juga bterikat oleh aturan atu tatakrama. Artinya, orang – orang memilih strategi tertentu berdasarkan bagaimana orang yg menerima pesan akan merespon. Prediksi ini selalu disadari, dan sering berlangsung cepat. Kita dapat memprediksi perilaku komunikasi orang lain berdasarkan peran sosialnya. Anda tidak dapat menyapa orang tua anda atau dosen anda dengan “kamu” atau “elu”, keculai bila anda bersedia menerima resikonya, misalnya dicapsebagai orang yang kurang ajar.  Adnda juga tahu apa yang harus anda katakan(“terimakasih”) ketika anda menerima hadiah dari orang lain atau ketika menyenggol seseorang tanpa sengaja (“maaf”). Anda juga tau aturan jam berapa anda harus menelepon atau bertamu kepada seseorang atau seberapa lama toleransi keterlambatan anda ketika anda bertemu dengan seseorang.

G. Prinsip 7: Komunikasi Bersifat Sistemik

Setiap individu adalah suatu sistem yang hidup (A living system). Organ-orgab dalm tubuh kita saling berhubungan. Bahkan unsur diri kita yang bersifat jasmani juga berhubungan dengan unsur kita yang bersifat rohani. Kita hanya dapat menduga lewat kata-kata yang ia ucapkan dan atau perilaku yang dia tunjukan. Sering kita tidak menyadari sistem internal kita tersebut dan menggagapnya sebagai sesuatu yang harus demikian adanya, sehingga kita tidak pernah mempersoalkan lagi. Setiap individu adalah sesuatu sistem internal

 H.  Prinsip 8: Semakin Mirip Latar Belakang Sosial-Budaya Efektiflah Komunikasi

Komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang hasilnya sesuai dengan harapan para pesertanya (orang-orang yang sedang berkomunikasi). Misalnya, penjual yang datang kerumah untuk mempromosikan barang diaanggap telah melakukan komunikasi efektif bila akhirnya tuan rumah membeli barang yang dia  tawarkan, sesuai dengan dia harapkan penjual itu, dan tuan rumahpun merasa puas dengan barang yang dibelinya

 I.     Prinsip 9:Komunikasi Bersifat Konsekuensial

Meskipun banyak model komunikasi linear atau satu arah, sebenrnya komunikasi manusia dalam bentuk dasarnya bersifat dua arah. Ketika seseorang berbicara kepada seseorang lainnya, atau kepada sekelompok orang dalam seperti rapat atau kuliah, sebetulnya komunikasi itu berjalan dua arah, karena orang-orang yang kita anggap sebagai pendengar atau penerima pesan sebenarnya juga menjadi “pembicara” atau pemberi pesan pada saat yang sama, yaitu lewat perilaku nonverbal mereka. Beberapa pakar komunikasi mengakui sifat circular atau dua arah komunikasi ini, misalnya Frank Dance, 39 Kincaid dan Schram 40yang mereka sebut model komunikasi antar manusia yang memusat, Tubbs yang menggunakan komunikator 1 dan komunikator 2 untuk kedua belah pihak yang berkomunikasi tersebut. Komunikasi sirkuler di tandai dengan beberapa hal berikut :

  1. Orang-orang yang berkomunikasi di anggap setara, misalnya komunikator A dan Komunikator B, bukan pengirim(sender) dan penerima (resever), sumber (source) dan sasaran (destination) atau yang sejenisnya. Dengan kata lain mereka mengirim dan menerima pesan pada saat yang sama
  2. Proses komunikasi di dalam timbal balik (dua – arah), karena itu modelnya pun tidak lagi di tandai dengan suatu garis luruh bersifat linear (satu-arah)
  3. Dalam praktiknya, kita tidak lagi membedakan pesan dengan u mpan balik, karena pesan komunikator A sekaligus umpan balik bagi komunikator B dan sebaliknya umpan balik B sekaligus pesan B, begitu seterusnya.
  4. Komunikasi yang terjadi sebenarnya jauh lebih rumit, misalnya komunikasi antar dua orang juga sebenarnya secara simultan melibatkan komunikasi dengan diri sendiri (berfikir) sebagai mekanisme untuk menanggapi pihak lain.

Meskipun sifat sirkuler digunakan untuk menandai proses komunikasi, unsu-unsur proses komunikasi sebenarnya tidak terpola secara kaku. Pada dasarnya unsur-unsur tersebut tidak berada dalam suatu tatanan yang bersifat linear, sirkuler, helical, atau tatanan lainnya.unsur-unsur proses komunikasi boleh jadi beroperasi dalam suatu tatanan tadi, tapi mungkin pula, tidaknya sebagian, dalam suatu tatanan yang acak. Oleh karena itu, sifat nonsekuensial alih-alih sirkuler tampaknya lebih tepat di gunakan untuk menandai proses komunikasi.

J.    Prinsip 10: Komunikasi Berfisat Prosensual, Dinamis, dan Transaksional

Seperti juga waktu dan eksitensi, komunikas tidak mempunyainawal dan tidak mempunyai akhir, melainkan  merupakan proses yang sinambung (Continius). Bahkan kejadian yang sangat sederhanapun, seperti “Tolong ambil garam”  melibatkan rangkaian kejadian yang rumit bila pendengar memenuhi permintaan tersebut. Untuk lebih memudahkan pengertian, kita dapat megatakan bahwa peristiwa itu dimulai katika orang A meminta garam dan berakhir ketika orang B membirikan garam itu. Namun kita tidak dapat mengukur peristiwa itu hanya berdasarkan apa yang terjadi antara permintaan akan garam dan pemberian garam itu. Baik A atau B telah merujuk pada pengalaman masa lalu mereka untuk merumuskan dan menafsirkan pesan serta menanggapinya secara layak. Komunikasi sebagai proses dapat dianalogikan dalam pernyataan Heraclitus enam abad sebelum Masehi bahwa “ seorang manusia tidak akan pernah melangkah di sungai yang sama dua kali.

Jadi dalam kehidupan manusia, tidak pernah saat yang sama datang dua kali. Pandangan serupa juga dapat diterapkan padafenomena berikutini. Ketika Anda menonton sebuah film- Titanic misalnya-untuk kedua kalinya keesokan harinya pada jam yang sama dan duduk dikursi yang sama sekalipun, maka hakikatnya film itu bukanlah film yang sama, karena film yang anda tonton kedua untuk kedua kalinya itu adalah film yang pernah anda tonton sebelumnya. Begitu jugalah komunikasi ; komunikasi terjadi sekali waktu dan kemudian menjadi bagian dari sejarah kita. Dalam proses komunikasi itu, para peserta mempengaruhi, seberapa kecil pun pengaruh itu, baik lewat kaomunikasi verbal ataupun lewat komunikasi nonverbal. Menanggapi salah satu elemen komunikasi, misalnya pesan verbal saja dengan mengabaikan semua elemen lainya, menyalahi gambaran komunikasi yang sebenarnya sebagai proses yang sinambung dan dinamis yang kita sebut sebagai transaksi. Transaksi menunjukan bahwa para peserta komunikasi saling berhubungan, sehingga kita tidak dapat mempertimbangkan salah satu tanpa mempertimbangkan lainnya.

Pernyataan bahwa komunikasi telah terjadi sebenarnya bersifat artifisial dalam arti bahwa kita coba menangkap suatu gambaran diam (statis) dalam proses tersebut dengan maksud untuk menganalisis kerumitan pristiwa tersebut, dengan menonjolkan komponen-komponen atau aspek-aspeknya yang penting.implikasi sebagai proses yang dinamis dan transaksional adalah bahwa para peserta komunikasi berubah ( dari sekedar berubah pengetahuan hingga berubah pandangan dunia dan perilakunya).Implisit dalam proses komunikasi sebagai transaksi ini adalah proses penyadian (enconding) dan penyadian balik (decoding). Kedua proses itu, meskipun secara teoretis dapat dipisahkan, sebenarnyaterjadi serempak, bukan bergantian. Sebetulnya, para peserta komunikasi merupakan sumber informasi, dan masing-masing membeeri serta menerima pesan secara serentak. Pandangan dinamis dan transaksional memberi penekanan bahwa Anda mengalami perubahan sebagai hasil terjadinya komunikasi. Jadi, perspektif transaksional memberi penekanan pada dua sifat pristiwa komunikasi, yaitu serentak dan saling mempengaruhi. Para pesertanya menjadi saling bergantung, dan komunikasi mereka hanya dapat dianilisi berdasarkan konteks pristiwanya.

K. Prinsip 11:Komunikasi Bersifat Irreversible

Suatu prilaku adalah suatu peristiwa. Oleh karena itu merupakan peristiwa, perilaku berlangsung dalam waktu dan tidak dapat “diambil kembali”. Misalnya para pemimpin negara yang menyalahgunakan kekuasaan dan kemudian jatuh dari kekuasaan akibat ulah mereka, seperti Ferdinand Marcosdan soeharto, dan menimbulkan efek tertentu berupa perubahan persepsi dan sikap masyarakat terhadap para pemimpin itu, pengaruh itu tidak bisa ditiadakan sama sekali, meskipun kita berupaya meralatnya.
apa lagi bila penyampaian pesan itu dilakukan untuk pertama kalinya.
ketika anda tempil pertama kali untuk melakukan presentasi atau pidato,  anda harus mempersiapkannya secara lebih hati hati, karna kesan halayak terhadap kinerja anda akan cenderung sulit dihilangkan sama sekali berdasarkan prinsip ini. Curtis et al, mengatakan bahwa kesan pertama itu cenderung abadi. Dalam kaitan ini, kita bisa memahami pribahasa “sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya”.

Dalam komunikasi massa, sekali wartawan menyiarkan berita yang tanpa disengaja mencemarkan nama baik seseorang, maka nama baik orang itu sulit dikembalikan lagi ke posisi semula, meskipun surat kabar, majalah, radio atau televisi itu telah minta maaf dan memuat hak jawab sumber berita secara lengkap. Ada saja pihak yang telah menaruh prasangka buruk kepada sumber berita sudah dipulihkan melalui permohonan maaf media cetak dan media elektronik yang bersangkutan atau pemuatan hak jawab sumber berita secara lengkap, bahkan bila hal itu misalnya dicetak satu halaman penuh pada halaman dimana berita pencemaran nama baik sumber berita dimuat sebelumnya.

 L.  Prinsip 12:Komunikasi Bukan Penasea Untuk Menyelesaikan Berbagai Masalah

Banyak persoalan dan konflik antar manusia disebabkan oleh masalah komunikasi. Namun komunikasi bukanlah penasea (obat mujarab) untuk menyelesaikan persoalan atau konflik itu, karena persoalan atau konflik tersebut mungkin berkaitan dengan masalah struktual. Agar komunikasi efektif, kendala struktual kendala ini harus juga diatasi. Misalnya, meskipun pemerintah berusaha payah menjalin komunikasi yang efektif dengan warga aceh dan warga papua, tidak mungkin usaha itu akan berhasil bila pemerintah memperlakukan masyarakat di wilayah wilayah itu secara tidak adil, dengan merampas kekayaan alam mereka dan mengangkutnya kepusat.

Komunikasi antara berbagai etnik, baik antara warga tionghoa dengan warga pribumi, antara suku madura dengan suku dayak di sambas (kalimantan) atau antara warga pendatang (bugis makassar) dan warga pribumi di ambon, juga tidak akan efektif bila terdapat kesenjangan ekonomi yang lebar diantara pihak pihak tersebut, juga bila pihak pihak tertentu tidak memperoleh akses atau mengalami diskriminasi dalam lapangan pekerjaan yang seharusnya juga terbuka bagi mereka. Hubungan antara warga tionghoa dan warga pribumi akan semakin efektif bila warga tionghoa pun diperbolehkan menjadi pegawai negeri dan anggota TNI, tidak hanya sebagai pedagang atau pegawai bank swasta seperti yang terjadi selama ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s