TEORI NILAI EKSPEKTASI DAN TEORI TINDAKAN YANG BERALASAN AKSI BUNUH DIRI SONDANG HUTAGALUNG

TEORI NILAI EKSPEKTASI DAN TEORI TINDAKAN YANG BERALASAN

AKSI BUNUH DIRI SONDANG HUTAGALUNG

 

Siapa sebenarnya Sondang Hutagalung, lelaki yang nekat membakar dirinya tepat di depan Istana Merdeka Jakarta, Rabu, 7 Desember 2011 lalu.

Sondang Hutagalung (lahir di Bekasi, Jawa Barat, 12 Oktober 1989 – meninggal di Jakarta, 10 Desember 2011 pada umur 22 tahun) adalah seorang mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Bung Karno, Jakarta yang tewas pada sekitar pk. 17.45, 10 Desember 2011, setelah membakar dirinya pada Rabu sore 7 Desember 2011 di depan Istana Negara, Jakarta.

Sondang menjabat ketua Himpunan Aksi Mahasiswa Marhaenisme untuk Rakyat Indonesia yang aktif dalam kegiatan “Sahabat Munir”. Di mata teman-temannya Sondang adalah aktivis yang sering terlibat dalam upaya advokasi dalam kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia.

Sondang dilahirkan sebagai anak bungsu dari empat bersaudara keluarga Victor Hutagalung dan Dame Sipahutar. Ayahnya bekerja sebagai sopir taksi, sementara ibunya tidak bekerja.

Keseharian Sondang Hutagalung?

Menurut Chrisbiantoro, di mata teman-temannya, Sondang dikenal sebagai sosok aktivis yang kerap terlibat dalam berbagai upaya advokasi pelanggaran HAM. “Dia pribadi yang unik, selalu membuat suasana demonstrasi lebih hidup dan cukup kreatif,”

Sondang, kata staf Divisi Kontras, Chrisbiantoro, dipercaya sebagai Ketua Himpunan Aksi Mahasiswa Marhaenisme untuk Rakyat Indonesia (Hammurabi). Organisasi yang dipimpin Sondang kebetulan suka aktif di kegiatan ‘Sahabat Munir’. “Kebetulan, kelompok aktivis itu masuk dalam Sahabat Munir,” kata Chrisbiantoro di Jakarta, Jumat, 9 Desember 2011. “Sudah 1,5 tahun dia bergabung dalam komunitas itu.”

Tinggal di Perumahan Pondok Ungu, Bojong Pengairan, Medan Satria, Bekasi, menurut tantenya, Nyonya Sipahutar, Sondang dikenal sebagai anak yang baik dan penurut. Bungsu dari empat bersaudara anak pasangan Dame dan Victor Hutagalung ini tak jarang membantu pekerjaan rumah tangga. “Nyuci bajunya sendiri pun dia mau,” kata Nyonya Sipahutar, tantenya. Victor, sang ayah, bekerja sebagai sopir taksi dan ibunya tidak bekerja.

Bob menuturkan, mahasiswa Fakultas Hukum angkatan 2007 Universitas Bung Karno yang diduga membakar diri di depan Istana Presiden Jakarta Rabu, 7 Desember 2011 lalu, senantiasa mengantar ibunya untuk menjalankan ibadah di gereja setiap minggu. Selain itu, Bob menambahkan, Sondang juga adalah pria yang taat beribadah. Baik itu kebaktian-kebaktian persekutuan maupun ibadah rutin yang dilakukan setiap minggunya.

“Kesehariannya, kalau mau berangkat (kuliah) dari rumah berdoa sama ibu, Tuhan Yesus,” tuturnya. Bob juga menceritakan, setiap kali di rumah, Sondang sangat akrab dengan sang ibu. Bila sedang berada di rumah, dia selalu bercanda dan tertawa bersama.

Penyebab Sondang Hutagalung Bakar Diri?

Menurut pendiri layanan psikologi Kasandra & Associated ini, kasus bakar diri Sondang Hutagalung harus diteliti lebih jauh melalui pemeriksaan dan analisa metode otopsi psikologis, rekontruksi kapasitas individu, psikodinamika kepribadian, gaya hidup, situasi Soal dan Motifnya.

“Tetapi frustasi adalah kondisi yang ditimbulkan oleh situasi yang menekan terhadap kualitas kepribadian khas Sondang. Saya cenderung lebih menduga kualitas kepribadian khas tersebut yang menjadi faktor penyebab Sondang melakukan hal itu”.

Terakhir kali, seorang temannya sempat berinteraksi dengannya pada 7 September 2011. Saat itu, Sondang dan kawan-kawannya menggelar aksi mengenang almarhum Munir. “Sondang memerankan pembunuh Munir lewat aksi teatrikal,” kata Chris. Setelah itu, kata Chris, Sondang pamit untuk ‘cuti’ karena akan ngebut skripsi. “Sebulan sebelum kejadian, Sondang sempat menitipkan organisasi Hammurabi.”

Apa yang ditempuh Sondang di depan Istana yang menjadi pusat simbol kekuasaan negara mencerminkan banyaknya masalah serius di negeri ini. Persoalan pelanggaran HAM dan tindakan-tindakan kekerasan yang disponsori negara, korupsi, serta kejahatan-kejahatan lain, tak hanya sulit diatasi melainkan sudah menemui jalan buntu.

Meskipun demikian, Sondang tetaplah pejuang. Kematiannya menjadi simbol perjuangan bagi siapa pun yang menginginkan perubahan. Ada atau tidak ada revolusi setelah kepergiannya, yang pasti Sondang telah memberi inspirasi bagi siapa pun, bahwa pada saat suara-suara kebenaran, kritik, protes, atau bahkan kecaman tidak didengarkan, maka hara-kiri bisa menjadi pilihan. Hara-kiri adalah bunuh diri untuk menjaga kehormatan. Di Jepang, hara-kiri biasa ditempuh para pemimpin yang tak mampu memperbaiki keadaan.

Maka, aksi bakar diri dianggap pilihan tepat untuk menembus kebuntuan itu.
Ada yang berpendapat, bakar diri merupakan aksi naif yang sia-sia, atau tindakan yang bertentangan dengan ajaran agama. Tapi, Sondang adalah pejuang yang sebenarnya, rela mati untuk cita-cita yang diperjuangkannya.

Menurut Chris, sebelum nekat membakar dirinya sendiri, Sondang diketahui menitipkan barang bawaannya ke seorang sahabatnya. Diserahkannya handphone, dompet, dan seluruh identitasnya, membuat polisi kesulitan mengungkap identitasnya. Sayangnya, Chris tidak tahu alasan Sondang melakukan aksi itu. Menurutnya, tidak ada masalah dengan Sondang dalam beberapa hari terakhir. “Kata pacarnya pun enggak ada masalah,” imbuhnya.

Sementara itu, terkait dengan aksi nekatnya korban membakar diri di depan istana, ia menafsirkan sebagai bentuk kekecewaannya yang telah lama. “Korban sempat berucap kalau istana adalah simbol rezim penindasan,”

Apa yang ditempuh Sondang sama seperti Mohamed Bouazizi di Tunisia, mahasiswa drop out, pedagang sayur dan buah-buahan yang tergusur. Bouazizi membakar diri untuk memberi peringatan bagi kekuasaan yang tak bisa dilawannya.

Di luar dugaan, dampak kematian Bouazizi sungguh luar biasa, memicu gelombang demonstrasi yang berhasil menggulingkan rezim Zine al Abidine Ben Ali yang berkuasa di Tunisia sejak 1987. Di Indonesia, apakah dampak kematian Sondang akan sama seperti Bouazizi? Mungkin tidak, karena Tunisia berbeda jauh dengan Indonesia. Di negeri ini, revolusi sulit digerakkan, selain karena karakter masyarakatnya yang cenderung suka memaafkan, juga karena situasi politiknya yang masih membuka ruang kebebasan. Pada saat masih ada kebebasan, revolusi akan sulit digerakkan.

 

Teori Nilai Ekspektasi

Teori ini diperkalkan oleh Martin Fishbein.  Ia menyoroti sifat kompleks dari perilaku yang diketahui sebagai teori nilai ekspektasi (expectrancy-value theory), yang dibagi menjadi dua macam keyakinan: “yakin pada” satu hal dan yang kedua “yakin tentang”.  Perbedaanya terletak pada menyakini sesuatu  dan yang lainnya mengenai perasaan seorang individu pada kemungkinan bahwa hubungan tertentu ada di antara dua hal. Kalau seorang individu menyakini sesuatu itu ada, ia akan mengatakan bahwa hal itu ada. Sedangkan keyakinan mengenai “tentang” adalah berbicara menganai manfaat informasi terhadap keyakinan seseorang.

Dari segi evaluatif, Fishbein membedakan antara keyakinan dan sikap. Dikatakannya, sikap berhubungan dengan keyakinan dan membuat seseorang berprilaku dengan cara tertentu terhadap sikap objek. Sikap juga diatur, sehingga sikap umum diperkirakan dari cara spesifik dalam sesuatu yang ringkas.  Secara ringkat, Fishbein ingin mengatakan, perubaha sikap dapat berasal dari tiga sumber. Pertama, informasi dapat mengubah kemampuan untuk meyakini atau bobot terhadap keyakinan terentu. Kedua, informasi juga dapat mengubah valence dari sebuah keyakinan. Ketiga, informasi dapat menambah keyakinan yang baru terhadap struktur sikap.

Fishbein lantas menyajikan hubungan antara keyakinan dan sikap dengan rumus:

A0   = sikap terhadap objek o

Bi     = kekuatan keyakinan i tentang  o ( mungkin atau tidak mungkin bahwa o  diasosiasikan dengan      konsep lain x)

ai    = aspek evaluative terhadap B (evaluasi dari konsep x)

n    = jumlah kepercayaan tentang o

 

Teori Tindakan Yang Beralasan

Bersama Icek Ajzen, Fishbein memperluas cakupan dari teori ekspektasi dengan menambahkan faktor intense dalam rumus. Secara specifik, intens dari perilaku tertentu ditentukan oleh sikap individu terhadap perilaku dan kumpulan keyakinan tentang bagaimana orang lain ingin seseorang berperilaku. Setiap faktor—sikap seorang individu dan opini orang lain—diberi bobot menurut kepentingannya. Sering kali terlihat sikap diri sendiri yang paling penting, terkadang opini orang lain yang paling penting, atau kadang-kadang sikap diri sendiri dan orang lain lebih atau kurang setra dalam bobotnya. Untuk menjelaskan hal ini, formula yang dikembangkan adalah:

BI        = intense perilaku

AB        = sikap terhadap perilaku

SN       = norma subjektif (apa pikiran orang lain)

ω1           = bobot sikap

ω2        = bobot normal subjektif

Formula di atas memprediksikan intense dari perilaku seseorang, tetapi tidak secara utuh memperkirakan perilaku sebenarnya. Mengapa? Karena kita tidak selalu berperilaku berdasarkan intense orang lain. Sebab, manusia dikenal sulit untuk melawan maksud baik mereka sendiri. Jelaslah, teori penggabungan informasi berhubungan dengan sistem faktor. Yang jelas, apa yang dipikirkan seseorang tentang isu dan bagaimana ia berprilaku, dihasilkan dari sebuah interaksi kompleks di antara variabel.

Teori Ekspektasi Nilai dan Sikap Sondang Hutagalung

A0                =  Sikap Sondang terhadap pemerintahan yang memiliki kinerja buruk, Sondang                   kecewa, tidak puas.

Bi         =  Keyakinan sondang terhadap pemerintah sudah tidak memihak pada rakyat

ai                   =  Fakta mengatakan bahwa pemerintahan SBY masih mewariskan korupsi, kolusi,               birokrasi yang buruk yang berasal dari rezim sebelumnya.

N          =  Jumlah keyakinan Sondang untuk melakukan bakar diri.

 

Teori Tindakan Beralasan Sondang Hutagalung

BI         =  Keputusan/ tindakan  Sondang untuk bakar diri

AB        =  Sikap Sondang kecewa terhadap pemerintah

SN        = Sondang  terinspirasi dari kasus Bouazizi yang membakar diri untuk memberi                   peringatan bagi kekuasaan yang tak bisa dilawannya. kematian Bouazizi yang                        sungguh luar biasa, memicu gelombang demonstrasi yang berhasil menggulingkan           rezim Zine al Abidine Ben Ali yang berkuasa di Tunisia sejak 1987

w1       = Sondang frustasi karena aspirasinya tidak pernah digubris oleh pemerintah.

w2       = Pengaruh dari teman sesama aktivis yang juga kecewa terhadap pemerintah.

 

Ini makalah dan slide yg digunakan , silahkan di download :

makalah nya
slide teokom EKSPEKTASI NILAI DAN TINDAKAN BERALASAN

One thought on “TEORI NILAI EKSPEKTASI DAN TEORI TINDAKAN YANG BERALASAN AKSI BUNUH DIRI SONDANG HUTAGALUNG

  1. Pingback: Kisi-kisi UTS Teokom « mejikubirubiru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s