Analisis framing & pembingkaian media

Media bukan suatu saluran yang bebas dan bukan pula seperti yang digambarkan, memberitakan apa adanya dan sesuai dengan realitas, tidak heran jika setiap hari kita banyak menyaksikan peristiwa yang sama namun disampaikan dengan cara berbeda oleh media. Ada peristiwa yang diberitakan oleh sebuah media tetapi tidak diberitakan oleh media yang lain. Ada yang menganggap penting suatu peristiwa untuk diberitakan, tetapi media yang lain melihatnya tidak begitu penting. Subjektifitas media tergambarkan dari adanya sebuah peristiwa yang dimaknai secara berbeda dengan wawancara dan orang yang berbeda dengan perspektif yang berbeda oleh media (Eriyanto, 2002:2).

Analisis Framing adalah salah satu metode dalam analisis media, seperti halnya analisis isi dan analisis semiotik. Framing secara sederhana adalah membingkai sebuah peristiwa. Analisis framing digunakan untuk mengetahui bagaimana perspektif atau cara pandang yang digunakan wartawan ketika menyeleksi isu dan menulis berita (Sobur, 2001:162). Cara pandang dan perspektif itu pada akhirnya menentukan fakta apa yang diambil, bagian mana yang ditonjolkan dan dihilangkan serta hendak mengarah kemana akhirnya pemberitaan tersebut. Framing merupakan teknik penyajian realitas di mana kebenaran tentang suatu peristiwa tidak secara total diingkari tetapi secara halus dibelokkan dengan memberikan perhatian khusus terhadap aspek-aspek tertentu dengan menggunakan istilah-istilah yang memiliki konotasi tertentu, dan dengan bantuan foto, karikatur, tabel, dan alat ilustrasi lainnya (Sudibyo, 2001:186).

Ide tentang analisis framing pertama kali dimunculkan oleh Baterson pada tahun 1955. Frame pada awalnya dimaknai sebagai struktur konseptual yang mengorganisir pandangan politik, kebijakan dan wacana, dan menyediakan kategori-kategori standar untuk mengapresiasi realitas. Konsep ini kemudian dikembangkan lebih jauh oleh Goffman (1974) yang menganggap frame sebagi kepingan-kepingan perilaku yang membimbing individu dalam membaca realitas (Sudibyo, 1999:24).

Peneliti yang paling sering mendiskusikan dan menerapkan konsep framing adalah W.A. Gamson. Ia terkenal dengan pendekatan konstruksionisnya untuk menganalisis wacana komunikasi. Pendekatan ini melihat proses framing sebagai konstruksi sosial untuk memaknai realitas. Proses ini bukan hanya terjadi dalam level wacana, namun juga dalam struktur kognisi individu dengan adanya konsep frame dalam level individual atau skemata interpretasi. Frame dalam level wacana dan level individual ini merupakan dua sistem yang saling berkaitan dalam proses konstruksi sosial untuk memaknai realitas. Dalam konteks inilah Gamson melihat adanya hubungan antara wacana media dan opini publik yang terbentuk di masyarakat.

Dalam mendefiniskan framing, Gamson melakukan dua pendekatan, yaitu pendekatan kultural yang menghasilkan framing dalam level kultural dan pendekatan psikologis yang menghasilkan framing dalam level individual. Dalam level kultural, frame pertama-tama dimaknai sebagai batasan-batasan wacana serta elemen-elemen konstitusif yang tersebar dalam konstruksi wacana. Dalam hal ini frame memberikan petunjuk elemen-elemen isu mana yang relevan untuk diwacanakan, problem-problem apa yang memerlukan tindakan-tindakan politis, solusi yang pantas diambil, serta pihak mana yang legitimate dan favourable dalam wacana yang dibentuk (Sudibyo, 2009:24). Sedangkan asumsi dasar dari framing level individu adalah bahwa individu selalu bertindak atau mengambil keputusan secara sadar, rasional, dan intensional. Individu senantiasa menyertakan pengalaman hidup, wawasan sosial, dan kecenderungan psikologis yang dimilikinya dalam menginterpretasi pesan yang ia terima. Pengalaman dan pengetahuan individu pada akhirnya mengendap yang akhirnya membentuk schemata of interpretation. Skemata memberikan kemampuan pada individu untuk memetakan, menerima, mengidentifikasi, dan memberikan label pada peristiwa atau informasi yang diterimanya (Sudibyo, 2009:28). Skemata inilah yang disebut sebagai framing dalam level individu.

Dari uraian singkat di atas dapat disimpulkan bahwa analisis framing, seperti bentuk riset kualitatif lainnya sangat bergantung pada konteks-konteks psikologi, sosial, budaya, politik dari masyarakat sewaktu peristiwa tersebut terjadi.

(Tulisan ini adalah bagian dari Tesis saya yang berjudul “Politik Pencitraan SBY; Analisis framing blog kompasiana Wisnu Nugroho tentang komunikasi politik Presiden SBY”)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s