Bakhil bin Pelit

AKU memang termasuk yang mengagumi kerja keras Bakhil bin Pelit. Sebenarnya nama Bakhil bin Pelit adalah Suharto. Akan tetapi, karena kemampuannya hanya bisa menambah, mengurang, mengali, dan tak bisa membagi, maka teman-teman lebih banyak memberi namanyaBakhil bin Pelit. Bakhil dan pelit, sama saja artinya. Bakhil berarti pelit dan pelit berarti bakhil. Suharto, yang diberi nama Bakhil alias Pelit alias Bakhil bin Pelit tenang-tenang saja.

“Itukan ekspresi dari teman-teman yang malas. Teman-teman yang iri. Teman-teman yang menganggap bahwa durian bisa runtuh tanpa pernah menanamnya. Teman-teman yang hanya pandai bermimpi. Teman-teman yang tak ubahnya seperti pungguk merindukan bulan. Teman-teman yang tidak menggunakan otot, omong, dan otaknya.” Kata Suharto, menjelaskan.

“Sebentar…” kataku, menyela. “Bukankah setiap orang harus punya mimpi. Bukankahsetiap motivator selalu mengingatkan agar kita punya mimpi.?”

“Jangan ikuti petuah motivator. Mereka hanya bisa ngomong. Mereka hanya mencari duit dari kemampuannya berorasi dan berekspresi. Mimpi itu, Kawan, tidak bisa disamakan dengan cita-cita. Mimpi, ya mimpi! Cita-cita ya cita-cita! Kalau Cita-cita diganti dengan impian, itu boleh-boleh saja,” katanya.

“Maksudmu?”

“Mimpi itu abstrak. Mimpi itu absurd. Masih lumayan khayal daripada mimpi. Sedangkan impian beda. Mimpi menjadi hartawan tidak sama dengan impianmenjadi hartawan. Mimpi itu berada dalam alam bawah sadar. Otot, omong, dan otak tidak bisa dikendalikan. Impian, meski sama-sama belum terjadi, tetapi otot, omong, dan otak bisa menjadikan impian itu terjadi,” tuturnya.

Suharto memang selain dikenal sebagai bakhil, pelit, kikir tetapi harus diakui ia adalah pekerja keras, disiplin dan tak akan membuang waktu untuk kegiatan yang tak bermakna. Otaknya lumayan encer. Omongnya lancar, sistematis, argumentatif, dan ekspresif. Plus ototnya terasah.

Predikat yang disandangnya itu bukan hanya dikenal oleh teman sekampusnya dulu, tetapi di lingkungan tetangga dan keluarganya.

Ia tidak tamat di strata 1 universitas negeri di kota ini. Satu-satunya. Saat teman-temannya diwisuda, Suharto justru sedang naik daun sebagai entrepreneur muda. Ia telah memiliki dua outlet spesialis baju kaos berlabel “Kawula Muda”.

Kaos trendy dengan pasar Anak Baru Gede (ABG) selalu ramai di sore dan malam hari. Talenta bisnisnya jalan. Outlet yang tak lebih dari kios berbahan kayu ukuran 4×6 meter persegi berhasil disulapnya menjadi cantik, berkelas, dan mencuri perhatian mereka yang melintas di depannya.

Ia memperkerjakan seorang lulusan SMK teknik komputer bidang keahlian multi media. Teguh, namanya. Teguhlah yang mendesain kaos itu. Hasil desainnya dikirimnya ke Jogjakarta untuk diproduk dalam jumlah yang tak lebih dari selusin dengan aneka pilihan warna.

Setiap desain dihargai Suharto 100 ribu rupiah. Bagi Teguh, satu hari ia mampu memproduksi dua desain. Pekerjaan mendesain itu selain tak terlalu sukar baginya karena pekerjaan itu dianggapnya sebagai hobi yang tersalurkan. Dapat uang pula.

Bagi Suharto, satu desain hanya bernilai 10 ribu rupiah bagi setiap kaos yang diproduksinya. Harga baju kaos kosong hanya 30 ribu rupiah. Itu sudah dianggap kaos berbahan bagus. Harga relatifmurah itu didapatnyadari jumlah satu kali pesanan 500 lembar atau 25 kodi.

Ongkos sablon per satu kaos 10 ribu Rupiah.  Ongkos kirim 5 ribu rupiah. Total bahan dan biaya desain, produksi hingga ongkos kirim 55 ribu rupiah. Suharto pun mampu menjual kausnya 80 ribu rupiah. Ia menikmati keuntungan 25 ribu rupiah per lembarnya.

Suharto berani menggaransi bahwa produksinya tidak bisa didapatkan di outlet lain. “Kalau ada di outlet lain, itu pasti palsu, bajakan, plagiat. Dan siapakah yang mau mengenakan kaos bajakan?” katanya.

Tak puas dengan outlet baju kaos anak muda itu, Suharto pun merambah usaha jasa pemangkas rambut. Lagi-lagi keberuntungan berpihak pada Suharto. Tempat pemangkas rambut dengan ukuran luas sama dengan outlet kausnya itu pun ia tata dengan rapi, desain yang menarik dan terkesan berkelas.

Ia sejukkan pemangkas rambut dengan AC 1 PK. Empat orang pemangkas rambut pinggir jalan ia naikkan kelasnya. Ia dandani pemangkas rambutnya dengan pakaian seragam yang rapi, penampilan yang rapi dan dengan cara melayani yang sopan, ramah, dah bersahabat.

Ada sofa untuk kapasitas enam orang untuk menunggu giliran. Ia sediakan wedang jahe hangat dan televisi flat 29 inci agar penunggu giliran tak bosan. Majalah bekas yang ia beli dengan harga murah dari agen ia tata rapi di meja mini. Meja ia letakkan di kiri-kanan sofa. Dinding dan pintu semua dari kaca.

Siasat hasil membaca dan sebagian olah perasaan Suharto sendiri itu berbuah manis. Ia berhasil menarik pelanggan, bukan saja kelas menengah, tapi juga kelas atas, ialah mereka penguasa dan pengusaha.

Duit pun mengalir lagi ke kantong Suharto. Tapi ia tak puas. Semangatnya bergelora untuk terus melebarkan bisnisnya. Ia menyewa lagi dua kios untuk masuk ke dunia kuliner bakso kepala sapi. Ia pekerjakan enam orang, semua berusia muda. Bagian produksi hanya dua orang, semua pria. Bagian pelayanan empat orang. Seorang pria, tiga lainnya perempuan.

Ia tahu psikologi konsumen yang rata-rata muslim. Maka di balihonya terpampang garansi halal, non borak, dan non formalin. Luar biasa. Begitu dibuka ia berhasil meraih 600 ribu rupiah. Itu artinya 60 mangkuk bakso beserta minumannya.

Suharto tak menyesali ‘drop out’ dari kampusnya dan tidak berhasil menyandang predikat sarjana ekonomi (SE) yang menjadi kebanggaan sejawatnya. Toh setelah empat tahun mengemban gelar itu, hanya sebagian saja sahabatnya yang sudah bekerja. Sebagian lagi jadi pengangguran terdidik yang masih menumpang di rumah orang tua.

“Tak seorang pun jadi majikan. Yang bekerja semua berstatus karyawan. Gajinya hanya untuk dirinya sendiri. Apa yang mau dibanggakan dengan gelar itu kalau ia tak berkontribusi untuk mengurangi pengangguran?” kata Suharto alias Bakhil bin Pelit dengan pongahnya.

Suharto memang sudah berubah. Rumahnya mentereng di perumahan elit yang dibangun pengembang dari Jakarta. Ia juga sudah tidak mengendarai motor bututnya. Ia sudah menunggang Honda CRV. Ia memiliki dua pick up untuk keperluan usaha dan satu Honda Jazz seri terbaru untuk istrinya.

Ia memang sudah berubah. Yang tidak berubah adalah pelit dan bakhilnya. Ia tega dengan saudaranya yang masih malang-melintang jadi tukang ojek. Ia kurang bersimpati dengan tetangganya yang janda beranak empat dan hidup ngos-ngosan.

“Aku juga dulu melarat. Lebih melarat dari mereka. Mereka itu hanyalah pemalas. Menjaga gengsi. Kerja pilih-pilih. Kurang menghargai dirinya sendiri dan menganggap rezekinya yang seret itu karena sudah takdirnya”, ujar Suharto bersungut-sungut.

Suharto sibuk. Kesibukannya menjebak dirinya menjadi kurang peduli. Undangan acara syukuran, edaran kerja bakti dari RT, nyaris ia nafikan karena bisnisnya yang sudah menggurita.

Ia pun berlibur bersama istri dan seorang anaknya ke ibu kota dan tidur di hotel bintang tiga. Sesuatu yang belum pernah dilakukannya selama ini.

Saat itulah musibah datang. Penjaga rumahnya tak hadir karena istrinya malam itu melahirkan. Ia tak berani meminta izin ke majikannya. Rumah kosong itu yang terpisah dengan tetangga dengan tembok tinggi dan pagar terkunci itu terbakar.

Warga ingin membantu menyelamatkan. Tapi rumah berhalaman luas itu terlalu tinggi untuk dipanjat. Air di ember warga yang disiram hanya mencapai halaman rumahnya yang asri dan tak mampu menjangkau rumah Suharto.

Api membesar dan ketika api nyaris melalap semua bangunan barulah pemadam kebakaran tiba. Celakanya, tak seorang pun yang tahu nomor telepon seluler Suharto, selain satu nomor yang tidak bisa dihubungi dan selalu dalam kondisi tidak aktif. Tak pula ada yang tahu nomor saudaranya.

Sehari setelah kejadian itu, barulah Suharto tiba setelah mendapat telepon dari karyawannya yang kebetulan ke rumah Suharto dan mengira majikannya sudah tiba dari tamasya. Rumah megah miliknya hanya tinggal puing seperti baru dibumihanguskan penjajah. Istri dan anaknya menangis melihat kenyataan itu. Suharto sendiri tak banyak bicara.

Ia tak bisa menyalahkan siapa-siapa. Ia terlalu pongah dengan kekayaannya. Ia terlalu percaya diri bahwa rumahnya yang kokoh itu tak mungkin bisa dihantam gempa karena tak pernah ada gempa di Kalimantan yang tak memiliki gunung berapi.

Suharto terlalu percaya bahwa rumahnya tak mungkin terendam air karena berada di lahan yang tinggi. Ia juga meyakini tak mungkin dilanda kebakaran karena jarak rumahnya dengan pemukiman warga yang relatif kelas bawah itu terpisah jauh.

Ia lupa, bahwa kebakaran bisa saja berasal dari rumahnya. Tuhan sudah berkehendak, jangankan Honda CRV, Honda Jazz, perangkat elektronik, simpanan uang, batu mulia, emas dan berlian milik istrinya ludes dalam sekejap mata.

“Kita bukan tak mau menolong. Tapi pagarnya yang tinggi, pagar depannya yang kokoh terkunci gembok besar itu menjadi penghalang kita untuk membantu,” kata ketua RT.

Sebagai sahabat, tentu aku prihatin mendengar peristiwa itu seminggu kemudian. Suharto, yang tergolek di ranjang rumah sakit karena mag akutnya kambuh, tak banyak bicara. Ia terlalu lemah. Apalagi musibah itu cukup memukul dirinya yang berjibaku dengan waktu untuk mengembangkan bisnisnya.

“Sabarlah. Allah punya kehendak lain dan pasti ada hikmahnya,” kataku menyabarkan sahabatku yang kukenal sejak SMA.

“Hanya karyawan dan keluarga dekatku yang menjenguk. Kawan-kawan lain rupanya lupa denganku. Mungkin salahku juga, karena aku lupa pada mereka bahkan pada tetangga,” kata Suharto.

Setiap hari aku menjenguknya dan membawakan sekedar buah-buahan yang sanggup kubeli. Karena aku masih bujangan, aku tidak menolak ketika Suharto memintaku untuk tidur di kamar putih beraroma obat itu.

Siapapun Suharto, seperti apapun dia, tetaplah ia sahabatku yang kusayangi sebagaimana aku menyayangi sahabatku lainnya. Suharto berangsur pulih dan sesekali kupergoki ia salat dan membaca kitab suci yang selama ini tak pernah kulihat ia melakukan hal yang serupa.

Ia keluar rumah sakit dan dinyatakan sudah pulih. Kebetulan aku dapat tugas kantor untuk ke luar daerah. Aku pun menemuinya di salah satu tokonya.

“Terima kasih, kawan. Buku Belajar dari Universitas Kehidupan yang kau berikan padaku untuk kubaca di saat sakit sudah dua kali kutamatkan. Aku memang alpa. Aku akan memperbaikinya. Allah menyayangiku meski aku lupa padanya. Ia masih mengambil hartaku. Belum mengambil nyawaku yang dititipkan-Nya,” kata Suharto seraya memelukku.

Hari ini kusaksikan pandangan kawanku itu tidak lagi seorang pengusaha. Ia seperti seorang anak yang hilang dan kini hadir dengan wajah barunya. Istri Suharto menangis dan memintaku untuk sering-sering menemui mereka jika tak keluar daerah. Aku mengangguk. Insyaallah itu kulakukan, apalagi di saat-saat mereka memerlukan kawan bicara. (far)

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s