fase perubahan sosial (patologi sosial)

I.Pendahuluan

Dalam menganalisa sebuah kasus yang berkaitan dengan patologi sosial atau penyakit masyarakat, maka ada beberapa teori yang digunakan, diantaranya :

1. Teori Perubahan Sosial

Yang dimaksud dengan perubahan sosial ini adalah perubahan struktur dan fungsi dalam masyarakat. Apabila suatu aspek kehidupan pada masyarakat telah mengalami perubahan (baik secara cepat atau lambat), maka akan terjadi masalah sosial.

2. Teori Culture Lag (ketertinggalan kebudayaan)

Satu budaya terdiri dari beberapa aspek. Jika ada slah satu aspek dari budaya itu yang tertinggal, maka akan terjadi Culture Lag (Ketertinggalan Kebudayaan). Culture Lag ini dapat menimbulkan masalah sosial.

3. Teori Konflik Sosial

Situasi yang menimbulkan pertentangan sebagian besar penduduk bisa disebut sebagai konflik sosial. Konflik sosial bisa menimbulkan masalah sosial. Contohnya seperti perang, pertentangan buruh dan majikan, dan lain-lain.

4. Teori Disorganisasi Sosial

Disorganisasi sosial terjadi ketika seseorang tidak melaksanakan fungsinya dalam sebuah organisasi. Disorganisasi sosial dapat menimbulkan keretakan organisasi sosial yang berkelanjutan dan dapat menimbulkan masalah sosial. Disorganisasi Sosial dapat terjadi karena adanya perubahan sosial yang ada.

5. Teori Patologi

Menurut teori patologi, masyarakat selalu dalam keadaan sakit atau masyarakat yang tidak berfungsi secara sebagian atau keseluruhan. Masyarakat bisa dikatakan sehat jika selurung anggota masyarakat berfungsi dengan sempurna. Jika dipandang dari luar, masyarakat memang terlihat menjalankan fungsinya dengan sempurna. Namun jika dilihat dari dalam, pada kenyataannya masyarakat tidak menjalankan fungsinya dengan baik. Misalnya, masyarakat yang makmur. Masyarakat ini memang terlihat makmur, namun didalamnya banyak masalah yang dihadapi.

II. Kasus Terorisme

Belakang ini negara Indonesia dihebohkan kembali dengan kasus teroris. Pasalnya beberapa hari yang lalu, Tim Detasemen Khusus 88 telah menyergap seorang teroris yang diduga kuat sebagai otak teroris terbesar, selain Noordin M. Top yang telah tewas terlebih dahulu pada tanggal 17 Sepetember 2009 silam, yaitu Dulmatin.

Tertangkapnya Dulmatin di daerah Pamulang, Tanggerang, Banten, beberapa hari yang lalu makin menambah daftar panjang jumlah teroris yang berkeliaran di Indonesia. Aksi teror di Indonesia dimulai pada tahun 2000 dengan terjadinya Bom Bursa Efek Jakarta, yang cukup merenggut banyak korban jiwa.

Kemudian terjadi kembali bom yang paling mematikan yaiut Bom Bali tahun 2002. Mayoritas korban dari bom Bali 1 ini adalah warga asing, khususnya warga Australia. Namun tak sedikit pula warga Indonesia yang menjadi korban. Selang 3 tahun kemudian, terjadi kembali bom Bali 2 yang menghacurkan kawasan Bali. Tidak berbeda dengan bom Bali 1, mayoritas korban bom Bali 2 adalah warga asing yang sedang berlibur di pulau Dewata ini.

Dilihat dari beberapa kasus bom yang terjadi di Indonesia, dapat disimpulkan bahwa sebenarnya para pelaku pemboman atau yang biasa dikenal dengan sebutan teroris ini mempunyai misi utama yaitu menjaga bangsa Indonesia dari pengaruh bangsa barat atau bangsa luar yang dapat membuat bangsa ini menjadi “rusak”.

Hal ini memang perlu di acungkan jempol, namun ada yang salah dari ini semua yaitu cara mereka menjaga bangsa ini agar tidak terpengaruh oleh bangsa luar. Hal ini bisa dibuktikan dengan beberapa kasus pemboman yang terjadi di Indonesia. Banyak warga Indonesia yang meninggal akibat ledakan bom tersebut. Padahal yang menjadi sasaran teroris adalah warga negara asing atau para pendatang.

Selain itu, alasan mereka melakukan penteroran adalah sebagai Jihad. Hampir dari semua teroris yang ada ada adalah berasal dari agama Islam. Padahal, Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan antara sesama umat beragama. Lebih tepat jika dikatakan terorisme merupakan sebuah tindak kriminal yang merugikan banyak pihak, bukan berlandaskan Agama Islam. Jadi salah besar jika seorang teroris mengatakan perbuatan yang dilakukannya adalah sebuah kepatuhan terhadap agama.

III. Tinjauan Sosiologi

Berdasarkan teori-teori yang ada, kasus teroris ini termasuk kedalam dua teori, yaitu :

a. Teori Perubahan Sosial

Selain itu, teroris sangat identik dengan sikap yang sangat tertutup dengan masyarakat sekitar. Hal ini dapat terjadi karena adanya perubahan sosial yang terjadi di dalam masyarakat. Perubahan struktur dan fungsi dalam masyarakat membuat para teroris sulit untuk terungkap. Sebenarnya bukan hanya para teroris saja yang bersifat tertutup, namun lingkungan masyarakat tempat berdiamnya teroris juga kurang peka terhadap apa yang ada di lingkungan sekitarnya. Sebut saja Noordin M. Top, salah satu gembong teroris terbesar yang telah tertangkap di daerah Mojosongo, Solo, Jawa Tengah tahun 2009 lalu. Warga di sekitar tempat bersembunyi Noordin tidak ada yang mengenal siapa dirinya dan keluarganya. Yang mereka tahu hanyalah keluarga pidahan yang tinggal di suatu rumah di daerah tersebut.

Jika saja para warga mau berinisiatif untuk mencari tahu siapa sebenarnya yang tinggal di rumah itu, pastilah Noordin sudah tertangkap sejak lama. Sama halnya dengan kasus Dulmatin, banyak warga yang tidak mengetahui akan kehadirannya. Ironisnya, keluarga Dulmatin sendiripun tidak mengetahui bahwa salah satu dari anggota keluarga mereka adalah teroris yang menjadi target operasi TIM DENSUS 88.

Hal ini terjadi karena kurangnya rasa kepedulian antar sesama anggota masyarakat. Perubahan sosial yang sedemikian cepat, membuat para warga sibuk atau asyik dengan pekerjaan mereka sendiri tanpa memikirkan apa yang sebenarnya terjadi di lingkungan sekitarnya. Perubahan sosial yang dialami masyarakat ini merupakan akibat dari perubahan fungsi dari masyarakat itu sendiri.

Masyarakat dikatakan berfungsi dengan baik jika mereka telah mampu bersosialisasi terhadap masyarakat sekitar secara berkelanjutan (kontinuitas) atau Sustainable. Proses sosialisasi ini secara tidak langsung dapat merekatkan atau meningkatkan rasa kebersamaan dan rasa saling memiliki antara warga. Namun, yang terjadi sekarang ini sangat berbanding terbalik dengan apa yang seharusnya ada. Sikap acuh tak acuh antara warga mulai tumbuh pada masyarakat sekarang.

Untuk dapat mencegah atau mengurangi hal ini, diperlukan kesadaran sosial yang kuat terhadap pentingnya proses sosialisasi di masyarakat agar masyarakat dapat menjalankan fungsinya kembali dan kasus-kasus seperti Dulmatin dan Noordin tidak akan terjadi lagi.

b. Teori Culture Lag (Ketertinggalan kebudayan)

Kondisi yang terjadi pada masyarakat kita sekarang ini adalah kurangnya penyaringan budaya-budaya asing yang seharusnya tidak diterapkan di Indonesia. Dalam Sosiologi, yang dimaksud dengan ketertinggalan kebudayaan atau Culture Lag adalah jika suatu kebudayaan memiliki beberapa aspek dan salah satu aspek dari kebudayaan itu tertinggal.

Kita sudah mengetahui bahwa tingkat pendidikan yang dimiliki para teroris itu sangat tinggi bahkan tidak sedikit dari mereka merupakan lulusan dari universitas-universitas ternama di Indonesia. Namun dengan tingginya tingkat pendidikan dan ilmu yang mereka punya, mereka tidak dapat mengontrol diri mereka sehingga dengan segala ilmu dan pengetahuan yang mereka miliki, mereka mampu merakit bom, misalnya, hingga menewaskan ratusan orang bahkan ribuan orang.

Jadi ketertinggalan kebudayaan yang melekat pada teroris ini adalah ketidakmampuan para teroris menggunakan ilmu dan pengetahuan yang mereka miliki. Andai saja mereka mengerti apa yang seharusnya dilakukan dengan ilmu yang mereka ketahui, pasti mereka akan membuat suatu hal yang bermanfaat untuk masyarakat Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s