Perkembangan Majalah Sebagai Media Massa

Image

Pengertian majalah adalah (sebuah) penerbitan berkala (bukan harian) yang terbit secara teratur dan sifat isinya tak menampilkan pemberitaan atau sari berita, melainkan berupa artikel, atau bersifat pembahasan yang menyeluruh dan mendalam. Pada dasarnya semua majalah bersifat hiburan (entertainment), dan bersifat informatif, sesuai dengan fungsi pers itu sendiri.

Banyak yang memperkirakan bahwa majalah yang terbit pertama kali adalah Review yang dibuat oleh Daniel Defoe. Sempat tertangkap karena menentang pandangan Church Of England, Defoe angsung menerbitkan Review secara berkala setiap minggunya, segera setelah dia dibebaskan pada tahun 1704. Image

Yang membuat Review berbeda dari koran-koran pada saat itu adalah, bahwa majalah yang dibuat oleh Defoe tersebut bukan hanya berisi berita, tetapi juga bermaterikan fitur-fitur. Dengan menambah frekuensi penerbitan menjadi tiga kali dalam seminggu, Defoe menerbitkan Review selama kurang lebih sembilan tahun, dengan dia sendiri yang menjadi editor dan kontributor tunggalnya.

Pada tahun 1709 Richard Steele menerbitkan the Tatler. Berita-berita mengenai keadaan moral manusia mulai dari kebiasaan judi hingga berduel, adalah target utama  the Tatler, walaupun berita-berita dari manca negara, pertunjukan teater, bahkan humor juga masih menjadi ulasan didalamnya.

Rekan Steele, Joseph Addison, mengikuti jejaknya dengan menerbitkan majalah the Spectator pada bulan maret tahun 1711. Isinya mengenai humor-humor kedai kopi, sketsa dan beberapa iklan pendek. Spectator juga menerbitkan cerita fiksi pertama dalam majalah, yang bercerita tentang seorang ksatria yang bernama Sir Roger.

Dalam waktu yang tidak terlalu lama kemudian, mulai bermunculan majalah-majalah lain seperti, the Guardian, the Englishman, Town talk, Tea Cable, Chit chat, the Plebeian, dan Grub street Journal.

Image

majalah Harper`s Weekly

Seiring dengan perkembangan fotografi, ilustrasi menjadi bagian penting dalam majalah. Leslie`s Weekly dan Harper`s Weekly mulai mencantumkan gambar pada setiap penerbitannya, tercatat dimulainya pada akhir abad 18.

Pada abad 18 inilah, ketika pertumbuhan ekonomi melaju pesat, majalah tumbuh subur dan kandungan isinya pun mulai meluas. Mulai dari pembahasan-pembahasan intelektual, kondisi-kondisi dunia kerja sampai sampai kehidupan dunia barat –life in the west –, menjadi topik ulasannya.

Di Indonesia, majalah baru dikenal antara tahun 1960-1970 dan penerbitannya diusahakan untuk mengisi kekosongan bacaan di dalam negeri setelah beberapa surat kabar dibredel dan buku-buku impor sulit didapat. Perkembangan selanjutnya, majalah-majalah umum akhirnya tergusur dari pasar dan digantikan oleh majalah-majalah yang lebih spesifik khalayak pembacanya seperti majalah untuk wanita, remaja, anak-anak atau majalah untuk kalangan eksekutif. Dewasa ini, seiring dengan semakin beragamnya segmentasi konsumen, maka spesifikasi majalah semakin beragam.

Dengan teknologi komputer pada era informasi ini, dengan format yang lebih baik dan kualitas cetakan yang semakin meningkat serta fitur-fitur yang menarik, majalah menjadi sebuah alternatif bagi kelompok-kelompok (segmen) masyarakat tertentu, yang mempunyai kesamaan visi pada suatu hal khusus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s