Lansekap Media Penyiaran

Berikut adalah presentasi berisi tentang sejarah (timeline) industri media penyiaran di Indonesia. Terdapat pula materi tentang kepentingan dalam pengaturan dalam bidang media. Asas-asas Hukum Media. Pembatasan media
dominic. Kebijakan pemerintah dalam mengatur industri media. Konglomerasi media. Materi ini dibuat oleh Dosen Manajemen Media Penyiaran Univ. Mercu Buana , “Tina Agustari”

Silahkan download : http://www.scribd.com/doc/213865924/Pertemuan-III-Lansekap-Media-Penyiaran

Motivasi untuk Hidup Lebih Baik

Ketakutan, kekhawatiran, sifat ragu seringkali membuat kita kehilangan keberanian untuk melakukan sesuatu. Padahal ada banyak hal dalam hidup ini agar kita bisa lebih berani dalam berbuat baik, berani mencintai, menangis, belajar, memaafkan.

Hidup ini singkat. Penyesalan di kemudian hari tentu percuma. Karena itu, mengutip dari sebuah situs inspirasi, 10 motivasi di bawah ini cocok untuk kita renungkan. 

 

 dontgiveupworld.com

1. Inilah Saatnya
Pandanglah hidup bukan sekadar antara kelahiran dan kematian, tetapi hidup adalah antara sekarang dan esok hari. Dan, apa yang kita bawa dalam kematian nanti, apa warisan buat generasi berikut? Dengan demikian kita bisa melihat hidup secara utuh, melakukan yang terbaik dengan apa yang kita miliki untuk kebaikan dan perdamaian. 

2. Hidup ini singkat 
Inilah hidup Anda. Maka berjuanglah. Berjuang untuk apa yang benar, berjuang untuk apa yang Anda yakini, berjuang untuk apa yang penting bagi Anda, berjuang untuk orang yang dicintai. Sadarilah saat kita masih punya kesempatan.

3. Berkorban untuk hari esok

Pengorbanan kita hari ini akan kita nikmati hasilnya di masa depan. Maka, ketika kita bekerja keras untuk meraih mimpi, memilih belajar giat, membangun sebuah usaha, atau tujuan lainnya, tanyalah ke dalam diri, “Apakah saya bersedia membeli waktu, menukar kesenangan untuk tujuan di masa depan yang lebih baik?”

4. Jangan menunda
Ketika kita menunda-nunda, maka kita akan menjadi budak dari hari kemarin. Kita mungkin kadang menggumam, “Nanti saya kerjakan.” Dan ternyata kita sibuk dengan hal lain, sehingga saat waktunya sudah sangat sempit, kita mencurahkan lebih banyak energi. Seringkali hasilnya juga tidak optimal. 

5. Gagal itu pelajaran
Tidak menyesali apa pun yang telah terjadi dalam hidup kita, karena memang sudah tidak dapat diubah, dibatalkan atau dilupakan. Ambil hikmahnya dan jadikan sebagai pelajaran. Setidaknya gagal itu lebih baik karena kita sudah berani melakukan, dibanding menyesal karena tidak berbuat. 

Renungkan: Thomas Alfa Edison harus gagal ratusan kali sebelum akhirnya berhasil menciptakan lampu bohlam.

6. Berdamai dengan diri sendiri
Kita harus memiliki hubungan yang baik dengan diri sendiri sebelum memulainya dengan orang lain. Kita harus merasa berharga dan dapat diterima oleh diri sendiri, sehingga kita memiliki rasa percaya diri saat berhubungan dengan orang lain.

7. Waktu dan pengalaman penyembuh terbaik
Suatu peristiwa yang menyakitkan Anda alami sekarang ini, akan menjadi bagian dari masa lalu. Itu juga menjadi catatan sejarah, pembelajaran, pengalaman yang menjadikan Anda orang yang lebih dewasa, serta lebih bijak.

Karakterisitik Isi Pesan Majalah sebagai Media Massa

Khalayak akan tertarik untuk membaca majalah dengan penyajian isi pesan yang yang pembahasan cenderung lebih dalam dibandingkan dengan media koran. Hal tersebut membuat paparan isi majalah sebaiknya merupakan berita kumpulan kejadian yang terjadi selama kurun waktu tertentu, oleh sebab itulah penerbitan majalah dilakukan per minggu, dwi minggu, atau bulanan.

 

            Komposisi juga menjadi hal penting dalam kemasan majalah. Penyajian isi pesan harus menarik dan sesuai dengan segmen pangsa pasarnya, tata letak artikel dan gambar/foto yang seimbang, penggunaan warna dan tekstur-tekstur juga harus dibuat nyaman untuk mata, tata bahasa yang sesuai dengan audience, riset kepustakaan yang lengkap, dan sebagainya. Layaknya media koran, berita yang disajikan majalah juga harus up to date, dengan bahasan yang lebih detail. Biasanya topik yang dipilih adalah topik yang bisa bertahan lama dan sesuai dengan minat audience yang ditujunya.

Renungandari kisah pohon Apel

Ada sebuah pohon apel besar tumbuh di halaman sebuah rumah. Anak kecil di keluarga tersebut suka bermain di sekitar pohon itu setiap hari. Memanjatnya, makan apel langsung ketika berbuah lebat, atau sekadar tidur di bawahnya saat panas terik.

Tak terasa waktu pun berlalu. Anak ini menjadi remaja. Suatu hari, ia menghampiri pohon apel tersebut.

“Ayo kita bermain lagi seperti dulu,” ajak pohon apel.
“Wah, saya bukan lagi anak kecil. Sudah bukan jamannya memanjat pohon saja. Sekarang saya lagi bingung, butuh uang untuk mentraktir pacar saya.”

“Saya hanya sebatang pohon, tidak punya uang. Tapi kalau kamu mau, silahkan ambil semua apel saya dan menjualnya. Jadi kamu punya uang untuk pacar kamu.”

Anak itu gembira, ia lalu memetik semua apel di pohon itu dan pergi dengan pacarnya. Anak itu tak pernah kembali memperhatikan sang pohon apel.

Bertahun berlalu, anak itu kini menjadi lelaki dewasa. Suatu hari ia datang lagi menghampiri pohon apel tersebut.

“Sekarang kamu sudah dewasa, ada waktu untuk bermain dan mengenang masa lalu?” tanya pohon apel.

“Saya tidak punya waktu untuk itu. Saya harus bekerja untuk keluarga. Dan sekarang sedang bingung karena kami tak punya rumah untuk berteduh.”

“Oh kasihan. Kalau kamu mau silahkan potong cabang-cabang saya dan jadikan rumah untuk keluargamu.”

“Benarkah?” tanya pria tersebut. Ia pun mengambil kapak dan memotong semua cabang di pohon apel hingga hanya tersisa batang utama saja. Pria itu lalu pergi membangun rumahnya dan tak pernah kembali.

Setelah bertahun-tahun kemudian, tiba-tiba pria ini kembali lagi. Sebagian rambutnya sudah berwarna keperakan tanda usia yang matang.

“Apa kabar, kawan?” tanya pohon apel yang kini tanpa dedaunan lagi.

“Halo pohon apel. Sekarang saya sudah pensiun, dan ingin menikmati masa tua dengan berlayar sambil memancing.”

“Oh saya tahu,” tebak sang pohon apel. “Silahkan, bila kamu mau pakailah batang utama di tubuh saya dan jadikan perahu untukmu.”

“Ah, terima kasih,” sahut pria tersebut. Ia pun menebang batang pohon apel lalu menjadikannya perahu. Sang pohon apel terlupakan lagi. Walau perasaannya sungguh sedih, namun dibiarkan pria itu pergi.

Kini, setelah hampir 60 tahun berlalu, seorang pria tua renta pulang kembali ke rumah masa kecilnya. Tiba-tiba ia tersandung sesuatu. Ternyata akar pohon apel yang tersisa.

“Oh rupanya kamu pohon apel yang dulu,” ujar pria tua tersebut.

“Apa kabar kawan masa kecil? Sekarang saya tinggal akar tua tersisa, tidak bisa mengajakmu bermain atau berteduh di bawah rimbun daun saya.”

Pria tersebut hanya terdiam dan duduk di salah satu akar sang pohon apel. Dari matanya mengalir air mata bening, menitik jatuh di antara keriput wajahnya.

Moral Cerita
Pohon apel melambangkan orang tua kita. Demikianlah, saat kita kecil senang bermain dengan ayah dan ibu. Seraya remaja dan dewasa kita meninggalkan mereka. Hanya sesekali datang pada mereka saat membutuhkan pertolongan.

Walau demikian, orang tua kita seperti pohon apel tersebut, selalu rela menolong dan berkorban agar kita bisa keluar dari kesulitan. Kasih orang tua memang tiada batas.

Semoga kita tidak seperti anak dalam cerita yang mengambil dan melupakan sang pohon apel begitu saja. Melainkan mau menghargai dan merawat orang tua agar masa tua mereka tak berakhir sedih laksana akar-akar pohon apel yang tersisa.

Karakteristik Majalah Sebagai Media Massa

Setiap media mempunyai karakteristik yang berbeda-beda. Hal ini tergantung dari jenis medianya, tiap media mempunyai kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri sesuai dengan tujuan dan kemampuan media tersebut.

             Majalah mempunyai karakteristik yang berbeda dengan media lain –khususnya media elektronik– antara lain adalah :

  • Luas jangkauan atau daya jangkau majalah terbatas. Setiap majalah umumnya mempunyai pembaca jauh lebih sedikit daripada pembaca surat kabar, namun memiliki pasar yang lebih mengelompok. Jangkauan khalayak majalah lebih tersegmen karena pesan yang disampaikan ditujukan untuk kelompok masyarakat tertentu. Karena segmentasi yang lebih terfokus dalam menentukan pangsa pasar, membuat majalah biasanya hanya mendistribusikan productnya pada lingkungan geografi yang tidak terlalu luas.
  • Kemampuan penyampaian pesannya lebih lambat karena jalur distribusinya yang panjang.
  • Penetrasinya cenderung lebih lambat karena biasanya majalah terbit mingguan, dwi mingguan, bahkan bulanan.
  • Kebutuhan pemeliharaan memori atau life spannya relatif lebih panjang. Umumnya majalah disimpan sampai berbulan-bulan.